REGIONALWISATA

Mercusuar, Menara Cahaya Indonesia.

Oleh: Dewi Gustiana ” Wartawan” SUARA PEMBARUAN NEWS

KAMU pernah menyambangi mercusuar yang tersebar di seluruh Indonesia?. Ada 284 mercusuar atau disebut juga menara api, menara suar, atau menara angin yang sangat membantu navigasi laut yang ada di Indonesia. Banyak ya meski belum cukup untuk mengawasi Wilayah laut Indonesia.

Berbagai mercusuar itu bisa dijadikan objek wisata yang baik dikunjungi karena merekam sejarah mulai berdiri hingga manfaatnya. Bahkan beberapa mercusuar ini menjadi ikon wisata yang wajib dikunjungi karena keindahannya. Terutama mercusuar peninggalan penjajah Belanda.

Memang ketika kerajaan Belanda dipimpin Raja Willem II dan Willem III berkuasa, Belanda membangun sejumlah mercusuar di Indonesia yang hingga kini masih berdiri kokoh dan masih digunakan.

Menara Suar Cikoneng, Anyar BantenTentu saja keberadaan mercusuar itu penting bagi Belanda untuk mengatur lalu lintas kapal mereka yang membawa hasil bumi sekaligus memantau pertahanan mereka untuk tetap berpijak di bumi Nusantara. Tapi setelah Indonesia merdeka mercusuar ini menjadi bagian penting dan arus lalu lintas laut yang menghubungkan daerah daerah di Indonesia. Mercusuar menjadi menara cahaya Indonesia.

Dari banyak mercusuar peninggalan Belanda saya sempat mengunjungi empat menara. Dari ke 4 menara itu ada yg disebut tertua, ada juga terindah dan mercusuar Sunda Kelapa yang merupakan mercusuar di tengah laut. Ada juga menara yg dibangun di jaman kemerdekaan spt Ambarketawang di Purworejo Jateng serta Baron Gunungkidul dan Samas Bantul.

Adapun mercusuar Pulau Lengkuas yang berada di Kecamatan Sijuk Kabupaten Belitung memang terlihat sangat indah dikelilingi batu batu granit besar dan hamparan pasir putih dan beningnya laut di sekitar.

Mercusuar Lengkuas dibangun pada tahun 1883 dan memiliki tinggi 57 meter dan lingkar 61 meter.

Mercusuar tersebut terletak di lepas titik utara pelabuhan Belitung, menghadap Selat Karimata, yang menghubungkan Laut Cina Selatan dengan Laut Jawa di antara Sumatra dan Kalimantan. Mercusuar tersebut dirancang oleh Enthoven and Co dari Den Haag.

Untuk mencapai Pulau Lengkuas dapat menggunakan sarana kapal boat yang bisa dinaiki dari dermaga Tanjung Kelayang Belitung dengan waktu tempuh tidak lebih dari satu jam.

Ongkos kapalnya bervariasi mulai dari 500 rb per kapal tergantung besar kecilnya kapal. Sebelum sampai ke Pulau Lengkuas bisa mengitari beberapa pulau kecil lainnya dan melakukan penyelaman menikmati keindahan bawah laut pulau pulau di Belitung. Gak ke Belitung kalau gak ke Pulau Lengkuas karena mecusuarnya adalah ikon Pulau Belitung.

Baca Juga :  Vaksin Dosis Pertama di Sleman Baru  Capai 82,8%.

Mercusuar lainnya yang pernah dikunjungi yakni mercusuar Cikoneng di Kecamatan Anyer Banten. Mercusuar ini paling mudah dijangkau karena letaknya di lintasan jalan di pantai Anyer.

Menariknya di sini juga menjadi titik nol poros jalan Anyer Panarukan yang membentang dari ujung barat hingga Ujung Timur Pulau Jawa dan memakan ribuan korban, namun menjadi jalur penting hingga sekarang.

Adalah Herman Willem Daendels menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda selama tiga tahun (1808-1811).

Dalam waktu relatif singkat itu, dengan tangan besinya berhasil membangun di berbagai bidang, baik untuk kepentingan ekonomi maupun pertahanan karena ditugaskan mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris. Namun, pembangunan monumental dan melekat padanya adalah Jalan Anyer-Panarukan atau Jalan Raya Pos yang panjangnya mencapai seribu kilometer. Sekaligus bukti sejarah kekejaman Belanda waktu itu.

Lokasi mercusuar terpelihara dengan baik. Untuk bisa naik cukup membayar Rp 5000 tapi pengunjung harus membayar Rp 30 ribu untuk parkir mobil. Terdapat hotel di sekitar bangunan mercusuar. Jika bisa naik ke atas menara bisa menyaksikan 360 derajat keindahan pantai anyer dan pulau pulau lain hingga ke selat Sunda.

Mercusuar ini pengganti mercusuar yg hancur akibat letusan gunung krakatau th 1883. Kini tapak bekas mercusuar itu dijadikan monumen. Mercusuar yg dibangun lagi thn 1885 masih berada di lokasi yg sama.
Mercusuar Cikoneng didirikan sebagai hadiah dari Raja Belanda ZM Willem III dengan ketinggian 75 meter dan terdiri dari 18 lantai.

Beberapa mercusuar lainnya bagus untuk dikunjungi karena keindahan pemandangan laut dan pulau pulaunya sekaligu saksi keberadaan penjajah di Indonesia yakni

Willem Toren II yang terletak d Pulau Betas Atai Pulang Breuh di sebelah barat pulau Weh Aceh. Mercusuar ini dibangun th. 1875 dengan tinggi 85 meter.

Ada pula mercusuar Willem III yang berada di tengah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Namun sayang belum bisa untuk umum karena berada dI tengah pelabuhan yang perlu penjagaan ketat.
Beberapa mercusuar lainnya yang dibangun penjajah Belanda yakni mercusuar Pulau Sebira yang terletak di Kepulauan Seribu dikenal juga dengan nama Noors Machter alias Jaga Utara. Dibangun thn 1869 memiliki 11 tingkat.

Baca Juga :  Gubernur Jatim Minta Rantai Pasok Distribusi Migor Berjalan Baik

Di kawasan Kepulauan Seribu terdapat mercusuar lainnya peninggalan Belanda yakni mercusuar di Pulau Edam yang dikenal juga dengan julukan Pulau Damar Besar karena banyak pohon damar yang tumbuh disana.

Mercusuar Pulau Edam atau disebut juga Vast Lich berdiri sejak 1879 silam. Tinggi menara peninggalan Raja Willem III itu mencapai 56 meter yang terdiri dari 16 lantai. Untuk tiba di puncak mercusuar, pengunjung harus melalui lebih dari 270 anak tangga. Mercusuar ini berfungsi membantu navigasi kapal yang akan memasuki Pelabuhan Tanjung Priok.

Mercusuar cantik ada juga di Pulau Biawak Indramayu. Mercusuar ini sebagai kembaran mercusuar di Tanjung Kalian di Pulau Bangka dan Anyer.

Perlu juga mengunjungi mercusuar
Cimiring di Nusa Kambangan Cilacap dan Bangkalan Madura.

Mercusuar Bangkalan dibangun masa Raja Belanda ZM Willem III th 1879 memiliki tinggi 88 meter bisa menjangkau 20 mil menjadi penerang kapal kapal yang mengarungi selat madura untuk ke Tanjung Perak Surabaya.

Sedangkan mercusuar Cimiring dibangun pada tahun 1855 – 1857. Secara tidak langsung, ini juga mempunyai peran penting untuk perkembangan navigasi kelautan Indonesia.
Mercusuar Cimiring ini membantu para pelaut yang melintasi lautan di sekitaran Indonesia – Australia. Lintas kapal yang di samudra Hindia sangat ramai, banyak kapal-kapal Negara lain yang melintas di sana, pun juga berfungsi sebagai penanda batas wilayah Negara.

Pada masanya, mercusuar ini juga sebagai benteng pertahanan.
Masih banyak lagi mercusuar dengan cerita cerita unik keberadaannya. Tidak salah dimasukkan dalam list kunjungan wisata berikutnya.

Tentu saja syaratnya tidak takut ketinggian dan kuat untuk naik ke atas menara. Kalau yang tidak kuat ditempat tinggi seperti aku ya cukup foto foto disekitarnya saja.

 

FOTO: Menara suara P. Lengkuas Belitung

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button