NASIONAL

Monumen Hijau Jendral Doni di Kariango

MARKAS Brigade Infantri (Brigif) Para Raider III/Tri Budi Sakti Kostrad di Kariango, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) yang dulunya gersang, kini berubah menjadi kawasan yang sejuk, jalan-jalan, lapangan serta ruang-ruang kosong telah ditumbuhi pepohonan trembesi, udaranya segar dan menyejukkan.

Sebuah karya lingkungan yang monumental dihasilkan dari ide seorang perwira ketika masih menjabat Komandan Brigif Para Raider III/Tri Budi Sakti Kostrad (2006—2008), dialah Kolonel Doni Monardo. Kisahnya diawali dari pertemanan dengan Andi Tenri Gappa, biasa disapa Onny Gappa (alm), Pimpinan Panin Peduli Makassar.

Onny adalah keponakan Jendral Jusuf dan juga menantu dari Mayjen H Andi Mattalatta, memiliki kegemaran membudidayakan tanaman trembesi (samanea saman) yang dibagikan secara gratis kepada siapa saja yang melakukan penghijauan. Dari sinilah Doni mengawali pengembangan pohon trembesi di markas Kostrad, Kariango.

Doni Monardo tertarik dengan trembesi ketika bertugas di Paspampres mulai tahun 2001 dari era kepemimpinan Presiden Gus Dur, Megawati, hingga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Setiap  berkunjung ke berbagai daerah Doni mengamati di sekitar bangunan pemerintah peninggalan Belanda, setidaknya ada tiga jenis pohon yakni Trembesi, Asam atau Beringin.

Ayah tiga anak itu makin tertarik lagi dengan hasil penelitian Endes N. Dahlan, Dosen Fakultas Kehutanan IPB, yang mengatakan bahwa pohon Trembesi adalah penyerap polutan terbaik. Satu pohon Trembesi yang lebar kanopinya telah mencapai 15 m, mampu menyerap polutan atau gas CO2 sebanyak 28,5 ton per tahun.

Pohon ini dapat tumbuh di tempat yang tandus, lembab atau basah, di daerah tropis tumbuh hingga ketinggian 600 meter diatas permukaan laut dan cocok untuk penghijauan kota.

Membuat Persemaian

Kecintaan putra kelahiran Cimahi, Jawa Barat 10 Mei 1963 ini pada tanaman trembesi  makin berkembang, dia malah meminta bantuan Onny untuk memberikan pengetahuan dan pelatihan bagi prajurit tentang tata cara membuat persemaian pohon trembesi. Tawaran Doni disambut baik, Onny menjadi instruktur, memberikan teori dan membuat demplot atau percontohan sehingga para prajurit langsung praktek dilapangan.

Baca Juga :  Steven Setiabudi Musa: Annies Baswedan Harus Batalkan Formula E

Gagasan Doni meminta prajurit untuk diajari ternyata memiliki tujuan khusus, selain menjadikan Markas Brigif Kariango menjadi pusat pembibitan dan menghijaukan kegersangan Kariango, lebih utama adalah memberi kesibukan dan tambahan penghasilan kepada prajurit agar mereka tidak lagi berkeliaran di luar markas.

Hamparan polybag berisi anakan tanaman menghiasi areal  yang dibuat oleh kelompok-kelompok prajurit, diluar waktu dinas mereka lebih fokus pada kegiatan di lokasi persemaian tanaman. Semangat para prajurit itu ditandai dengan pencanangan slogan yang terpampang di persemaian bibit, “Dari Kariango Ikut Hijaukan Indonesia”.

Hasil pembibitan trembesi yang siap tanam selain digunakan menghijaukan kawasan Kariango juga melayani permintaan di pusat industri, seperti di Pabrik Semen Tonasa, Bosowa dan daerah lain di Sulsel. Trembesi yang menghijau di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dan di Lapangan Karebosi Makassar merupakan hasil tangan prajurit Brigif Para Raider III/Tri Budi Sakti Kostrad.

Mengakhiri tugasnya di Kariango, Doni Monardo mendapat tugas sebagai Paspampres di Jakarta, di sini  aksi lingkungannya  makin berkembang, membuat persemaian atau kebun bibit trembesi di Cikeas akhir November 2008, bibit itu dibagikan di Istana Merdeka pada saat peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2009.
Tahun 2010 Doni Monardo mengembangkan kebun bibit di Rancamaya, 100.000 bibit trembesi ditanam di wilayah Bogor, Cianjur, Sukabumi, DKI Jakarta, Kota Kudus, Jawa Tengah. 100.000 bibit Sengon dibagikan secara gratis kepada masyarakat terutama warga terdampak erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Baca Juga :  Mayjen Maruli Simanjuntak Ditunjuk Menjadi Pangkostrad

Setahun kemudian, Doni Monardo mendirikan Paguyuban Budiasi yang diberi nama langsung oleh Presiden SBY, singkatan dari  Budidaya Trembesi  dikembangkan di Sentul dan hingga kini telah memproduksi lebih dari 20 juta pohon, terdiri dari 150 jenis pohon diantaranya tanaman langka, dibagikan ke berbagai daerah termasuk negara tetangga, Timor Leste.

Gelar Kehormatan

Kiprahnya dibidang lingkungan tak hanya sampai di situ, Doni Monardo juga membudidayakan pohon endemik langka Indonesia, jenis Ulin, Eboni, Torem, Palaka, Rao, Cendana, dan Pule yang sudah sulit ditemukan.

Dipenghujung karier militernya dengan pangkat Letnan Jenderal (Letjen), Doni Monardo dipercaya memimpin Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan sebelum memasuki masa pensiun, menerima gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam bidang ilmu Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan.

Penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa Doni Monardo ini tertuang dalam keputusan senat akademik Institut Pertanian Bogor Nomor 21/IT3.SA/PT/2020 dan diputuskan sejak Rapat Pleno Senat Akademik (SA) IPB pada Oktober 2020.

Karya lingkungan yang dipersembahkan Doni Monardo kepada negara ini patut mendapat apresiasi, dia tidak hanya membuat monumen hijau di tanah gersang Markas Brigif Para Raider III/Tri Budi Sakti Kostrad Kariango, namun telah memberikan teladan yang baik bagi para prajurit di tanahair untuk mencintai lingkungan. (M Kiblat Said)

Markas Brigif Para Raider III/Tri Budi Sakti Kostrad, Kariango, Maros, dulu kawasan ini gersang, kini tampak dari ketinggian dikelilingi pohon trembesi yang rimbun. (M. Kiblat Said – dari berbagai sumber)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button