CATATAN REDAKSI

Wartawan Muhamad Hamzah, Janji Berselancar Kuliner di PON Aceh 2024

Jakarta, suarapembaruan.news – Di penghujung Munas Pecasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) ke-29 di hotel Century  GBK, Sabtu (26/2/2022)  salah seorang peserta menghampiri seorang wartawan senior di catur.

Peserta itu berasal dari Provinsi  Naggroe Aceh Darussalam. Status yang tertera  di label namanya adalah  Wakil ketua Pengprov Percasi Aceh.  Namanya Muhammad Hamzah.  Luar biasa. Masih muda, gagah, energik, dengan takaran usia sekitar 40-an tahun menjelang 50. Mungkin.

“Hari pertama, Jumat, saya sudah melihat Bang Mike, hanya sekilas lalu tiba-tiba menghilang entah kemana. Sekarang baru bisa salaman,” sebut Hamzah sambil menggenggam erat-erat tangan saya ketika bersalaman sore menjelang malam Sabtu petang itu.

Waktu Hamzah melenggang mendekati saya  di akhir acara Munas, baru saya sadar,  gaya lenggangannya  saya kenal baik. Pasti Muhammad Hamzah, wartawan/koresponden Suara Pembaruan.  Awal tahun 2000-an (mungkin) gaya itu yang saya lihat ketika umumnya korespoen SP berjalan dari Gang Arus, Cawang, markas koresponden, menuju kantor pusat SP berlantai 6 di Jalan Dewi Sartika.

Pada umumnya  semua koresponden berjalan dalam suasana  bahagia. Maklum, karena dari daerah datang ke Jakarta, ke kantor Pusat, jaminan tinggal ada, uang ada tinggal minta karena di kantor pusat, dan semua masih sanga oke untuk  apa saja yang menyenangkan di kala itu. Betul teman-teman….?

Tentu saja nostalgia tidak ada salahnya, sekadar mengusir   kepenatan berpikir atas apa yang kita alami, dan rasakan saat ini :   Yaitu SP yang telah menyatukan kita  dari  Sabang sampai Merauke  dalam kurun waktu puluhan tahun (1987 – 2021) harus  bubar karena sesuatu yang tak sanggup kita lawan, dan katakan.

Baca Juga :  The Republic Institute Temukan, Terjadi Penurunan Pilihan Terhadap Gambar Parpol

Mungkin ada di antara kita yang berada-andai,”Andaikan begini, begitu, begono, begini, maka SP tidak mungkin  harus alami nasib mati sia-sia”. Tapi sudahlah. Semua sudah selesai.  Gedung SP di Jalan Dewi Sartika tinggal onggokan sampah.

Gedung yang megah itu tinggal puing-puing. Mujur ada teman-teman – lagi-lagi inisiatif datang dari arus koresponde –  membangun kembali kisah lama tentang SP dalam format yang lain SUARA PEMBARUAN. NEWS. Tekadnya mungkin tak muluk-muluk, sekadar menghimpun keluarga besar Suara Pembaruan yang masih tetap mencintai jurnalistik sebagai profesi yang agung.

Maka marilah kita beramai-ramai menuliskan satu atau dua berita setiap hari di tagar SPNews kitia. Kita hidupkan, kita besarkan bersama. Dari Surabaya saudaraku Mas Aries Soediono sangat produktif dengan 4-5 berita sehari, juga Mas Tegu. Dari Papua Om Robert,  dari Yogyakarta saudariku Fuska, Palembang dengan Bang Bangun Lubis, Lampung, Bengkulu, Sulawesi Utara, Jakarta, dan lain-lain. Mudah-mudahan  semua berusaha produksi melahirkan berita-berta berkualitas untuk pembaca kita.

Tidak lama  saya ngobrol dengan adikku Muhammad Hamzah di Munas Percasi petang itu. Hanya sebentar, bahkan hanya hitungan menit, namun pulangnya kenangan ke belakang tentang SP menguat dan mengakar sampai terbawa mimpi, karena pertemuan yang tidak disengaja bersama Hamzah ini.

Baca Juga :  Mencari Penggalan Sajak Yang Melegenda

Janji Berselangar Kuliner

“Catur bertanding di Medan atau Aceh di PON?” Itu pertanyaan pembuka saya pada Hamzah. Kami maunya di Aceh. Aceh sangat siap. Jawaban Hamzah seperti menyiratkan  khawatir, jangan-jangan pelaksanaan catur dicaplok Medan  lagi.

Tampaknya tidak begitu, karena  bersama Grand Master Utut Adianto tidak bisa berlaku asal Bapa  senang. Beliau apa adanya, kalau Aceh memang lebih bagus ya pasti akan pilih Aceh. Lalu dalam bincang –bincang singkakt itu, Muhammad Hamzah, selibkan satu kartu “yoker”  kepada saya sebagai kekuatan dari Aceh. Apa itu?

“Semoga  pertandingan catur untuk PON 21/2024 berlangsung di Aceh. Nanti Bang Mike  biar bisa makan mie Aceh,  saya bawa Bang  Mike jalan-jalan,  minum kopi asli Aceh,  makan jari kambing Aceh, ayam tangkap Aceh,  di restoran ‘ayam Pramugari’ Aceh,” jelas Hamzah.

Dia mengatakan ayam boleh sama, tapi bumbu-bumbu Aceh bumbu spesial.   Itu yang membuat olahraga masakan “ayam tangkap” begitu berbeda. Pengolahan, kata Hamzah, sama saja tak beda jauh dengan olahan ayam lain. Ayam diracik dengan berbagai bumbu seperti biasa. Bedanya waktu setengah matang, ditambahkan lagi bumbu berupa dedaunan yang hanya ada di Aceh. Dedaunan itulah  yang menambah aroma sedap pada makanan.

Maka datagnlah ke Aceh,  selain mengikuti PON 2024, hindangan kuliner istimewanya siap disajikan untuk Anda semua. Terima kasih Bang Hamzah dengan kuliner Acehnya. Tetap semangat untuk catur Indonesia. (SPnews/Mike Wangge)

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button