CATATAN REDAKSI

“increase the degree of dignity” : Kapolri Listyo, Polisi Memberikan Harapan

pengembalian marwah’ dalam tubuh Kepolisian Republik Indonesia (RI).

Oleh : Bangun Lubis (Wartawan SuaraPembaruan.News)

 

MARUAH dalam Bahasa Arab (Islam) dan sering ditulis marwah. Istilah itu kemudian sering disamakan maknanya dengan kata Marwah dalam Bahasa Indonesia. Muru’ah  secara bahasa bermakna kehormatan dan harga diri.

Sedangkan dari segi istilah, muru’ah adalah salah satu akhlak islami yang dapat mengantarkan seseorang untuk memiliki jiwa yang bersih  dan tidak terkungkung dan di perbudak oleh nafsu syahwatnya, karena karakter seorang muslim mempunyai cita cita (himmah) yang tinggi dan sangat tidak suka pada sesuatu yang buruk, rendah dan hina.

Islam mengajarkan kepada manusia untuk menghindarikan diri dari sifat kehinaan kepada diri sendiri. Sifat kehinaan itu bisa bersumber dari perilaku merendahkan harkat dan martabat diri dan merendahkan orang lain. Kehinaan diri bisa juga bersumber dari perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan dan akhlak tidak terpuji yang diperbuatnya. Oleh sebab itu, menjaga kehormatan diri (menjaga marwah) itu bisa dilakukan dengan menghindari perilaku dosa dan maksiat serta menghindarkan diri dari akhlak yang tercela.

Terus terang saja saya ingin menyamakan itu denga apa yang berlangsung dalam proses ‘pengembalian marwah’ dalam tubuh Kepolisian Republik Indonesia (RI). Kesemua yang diungkapkan ini, tidak lain, karena sebuah ketegasan yang berlangsung dari elite kepolisian sehingga ada perbaikan, ada usaha untuk mengatarkan jiwa kepada cita-cita (hikmah) derajat kemuliaan. Meninggalkan persoalan terkait kehinaan dan sifat rendah dalam kemartabatan. Istilahnya increase the degree of dignity.(meningkatkan derajat marwah ) Kepolisian RI.

Saat yang tepat, adalah juga Ketika oknum petinggi Kepolisian RI, diduga terlibat dalam kasus pembunuhan kepada seorang anggota kepolisian juga, bernama Brigadir J alias Nopryansah Yosua Hutabarat. Ia adalah ajudan atau sopir dari istri mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri Irjen Ferdy Sambo.  Petinggi polisi ini, juga diduga terlibat terhadap mkasus tersebut.

Adalah Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, yang sekarang menjadi Pimpinan Koorps Bhayangkara Kepolisian Republik Indonesia atau Kapolri, yang menjadi tokoh sentral dalam usaha dalam meningkatkan perbaikan Marwah Kepolisian RI tersebut. Kalau saya, pertama sekali mengetahui adanya Satuan Tugas Khusus (Satgasus) dalam koorps Kepolisian, berkat unggahan video Menteri Mahfud, MD, yang menyebutkan adanya sebuah satuan elite tersebut. Tentu kita tercengang mendengar tersebut.   Sehari dua hari kemudian, ramailah media memberitakan soal Satgasus tersebut. Reaksi masyarakat dari kondisi hati miris sembari merasa begitu menakutkan,  dan juga sangat menyesalkan adanya tim elite itu. Bahkan ada yang menyebut bahwa satuan ini tidak tersentuh. Mengerikan kan?

Baca Juga :  Paksakan Diri dan Tekun Menjalankan Perkara Ibadah Syariat Islam

Namun,  akhirnya Kapolri Listyo Sigit Prabowo, mampu membubarkan Satgasus tersebut, dan seluruh rakyat bangsa Indonesia ini, begitu gembira dan menyambut keputusan yang dilansir Kamis (11/08-2022) itu. Ini yang oleh masyarakat Kapolri Listyo telah mengembalikan marwah derajat Kepolisian RI .

Listyo, dinilai berhasil memimpin institusi Polri. Prestasi dan keberhasilan yang dicapai mantan Kabareskrim itu ternyata melampaui target dan espektasi.   Pada tubuh kepolisian banyak kontribusi dan terobosan yang dilakukan Listyo Sigit Prabowo. Polri benar-benar menjadi institusi yang melindungi, melayani, dan mengayomi. Wajah Polri saat jauh lebih modern dengan sistem pelayanan publik terintegrasi. Artinya, dapat dikatakan bahwa gagasan transformasi Polri presisi telah berhasil mengubah wajah Polri lebih moderens, humanis, terbuka dan tidak antikritik. Ini tentu sudah mulaui terlihat Ketika sebelum kasus ‘Brigadir J.

Di mata publik, Jenderal Sigit dipandang berhasil mengembalikan citra dan marwah institusi Polri yang sebelumnya acap dipersepsikan sebagai institusi “buruk rupa” kini telah bertransformasi menjadi institusi terkemuka yang mengedepakan pendekatan humanis, prediktif, dan transparan dalam rangka menjamin rasa keadilan yang proporsional bagi semua orang tanpa pandang bulu.

Jenderal Sigit memiliki tekad kuat untuk melakukan pembenahan dan perbaikan sebagai bagian dari upaya reformasi penegakan hukum yang selama ini kerap dipersepsikan “tajam di bawah tumpul ke atas”. Alhasil, penegakan hukum saat ini sangat transparan dan tak pandang bulu. Ini njuga pernah ditulis oleh seoarang kolumnis, Romadhon Jasn Koordinator Jaringan Aktivis Nusantara, di Sindonews.com.

Lebih dari itu, Jenderal Sigit pun disebut menyediakan ruang (kanal) dengan membuka mekanisme pengawasan yang bisa diakses masyarakat. Artinya, pelibatan masyarakat dalam melakukan kontrol secara langsung adalah bukti bahwa tidak ada yang ditutup-tutupi semua serba transparan dan bisa dikontrol publik. Sebagai sosok pribadi yang murah senyum, kalem, ramah, dan santun bawaannya namun sesungguhnya Jenderal Sigit sangat tegas dan bijaksana. (CNNIndonesia.com)

Sikap demikian itulah yang mencerminkan beliau sebagai seorang pemimpin sejati sehingga menjadi teladan bagi bawahannya. Kepemimpinan transformatif Jenderal Sigit telah memotivasi bawahannya untuk terus berikhtiar dengan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Berkat ikhtiar dan kinerja maksimal seluruh stakeholder institusi Polri, kepercayaan publik tentu diharaopna bisa meningkat.

Lihat saja bagaimana kasus ‘Sambo” yang terus menerus kepolisian melakukan proses penyidikan terus dilakukan pada kasus kematian Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J yang tewas akibat ditembak.  Hari demi hari kasus yang sudah sebulan lebih sedikit hari itu, menuai hasil. Listyo kemudian menyatakan dengan halus bahwa ada tersangka baru yaitu Irjen Ferdy Sambo yang memerintahkan Bharada E untuk menembak.

Baca Juga :  Tinjau Vaksinasi Serentak 31 Titik di Sumut, Kapolri Pastikan Target Presiden Jokowi Tercapai

Kapolri juga memang tentu hati-hati menangani kasus itu, Satu persatu oknum petinggi polri ternyata diduga ikut terlibat dalam kasus itu . Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat konferensi pers  Selasa (9/8), menjelaskan bahwa Irjen Ferdy Sambo menyuruh Bharada E menembak Brigadir J. Penembakan itu dilakukan dengan senjata api milik Bripka RR. Kapolri Lystio berkata; “Peristiwa penembakan terhadap saudara J hingga meninggal dunia yang dilakukan saudara RE adalah atas perintah FS.”

Dan juga keterlibatan para oknum polisis yang mulai berpang tinggi hingga pangkat rendah bahkan hamper 31 orang ini, dengan teliti Listyo menyeruakannya kepada ranah public. Tentu itu transpanaransi dan akuntabli, karena dibarengi penelitian dan pengkajian ilmiah oleh para elite kepolisian yang tentu mereka yang begitu komitmen kepada bangs aini.

Merujuk kasus yang menggemparkan dunia ini,  Listyo juga mengatakan, Ferdy Sambo menembakkan senjata milik Brigadir J ke dinding berulang kali untuk membuat kesan telah terjadi tembak-menembak. Ini ken sebuah keterbukaan dan sifat kepolisian yang begitu terpuji.

Padahal itu tidak pernah terjadi. Memang saat itu, Listyo tidak mengungkapkan mengapa penembakan dilakukan terhadap Brigadir J. Tidak dibeberkan pula alasan FS memerintahkan Bharada E untuk menembak Brigadir J. Saat itu tentunya. Dengan jelas dan berharap bisa memberikan informasi yang jelas, Dia mengatakan bahwa proses pendalaman masih dilakukan untuk mengetahui motif penembakan dilakukan terhadap Brigadir J. “Terkait apakah saudara FS menyuruh atau terlibat langsung dalam penembakan, saat ini tim masih melakukan pendalaman terhadap saksi-saksi dan pihak-pihak terkait,” kata Listyo.

Bukan kah ini, sebuah transparansi yang nyata dari Kapolri. Bahkan banyak pihak mengatakan, Kapolri begitu ‘berani” dan mau menangani kasus-kasus yang dinilai oleh masyarakat sangat riskan, bisa satau-demi satu menyeruak dan terungkap ke permukaan.

Tentu saya juga, tidak memungkiri bahwa masih banyak kasus yang berada dalam penanganan kepolisian harus terus dituntaskan oleh institusi yang mulai menonjolkan marwah ini, agar – bukan saja hanya agar mendapat legitimamsi dalam pandangan public atau masyarakat luas, namun mengembalikan marwah kepada Lembaga yang memang benar-benar sebagai Lembaga yang dapat menyamankan hati masyarakat hingga tiada lagi ketakutan atau kejengkelan Ketika mereka berhadapan dengan para polisis yang insyaAllah akan memperbaiki diri mereka ini pula. Mereka adalah pengayom kita. Itu kata tepat ditujukan kepada mereka korps Bhayangkara untuk saat ini.(*)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button